EPIDEMIOLOGI KESEHATAN GLOBAL ‘’KEJADIAN PENYAKIT DBD (DEMAM BERDARAH DENGUE) SEBAGAI SALAH SATU DAMPAK DARI PERUBAHAN IKLIM”

  • Dec 11, 2024
  • Andreas Saldy

Kendari, graha-asri.kim.id - 

Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit yang ditularkanoleh gigitan nyamuk bernama Aedes aegypti. Penyakit ini masih menjadisalah satu isu kesehatan masyarakat di Indonesia, dan tingkatpenyebarannya di Indonesia termasuk yang tertinggi di antara negara-negara Asia Tenggara. 

Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), hingga 30 April 2024, lebih dari 7,6 juta kasus demam berdarah telah dilaporkan. Termasuk 3,4 juta kasus terkonfirmasi, lebih dari 16.000 kasus parah, dan lebih dari 3000 kematian. Salah satu wilayah dengan kasus DBD terbanyak adalah Amerika yang jumlah kasusnya telah melampaui tujuhjuta pada akhir April 2024. Angka ini melampaui jumlah kasus tahunantertinggi yakni 4,6 juta kasus pada tahun 2023.

Di Indonesia, kasus demam berdarah dengue (DBD) juga terusmengalami penambahan. Hingga pekan ke-18 tahun 2024, sudah ada91.269 kasus demam berdarah. Sementara, kasus kematian mencapai 641, seperti disampaikan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI). Angka kasus DBD pada 2024 tiga kali lipat lebih tinggidari 2023. Di pekan yang sama pada tahun lalu, Kemenkes mencatat29.822 kasus dengan angka kematian 227.

"Kalau kita lihat data 20-30 tahun terakhir, peningkatan kasus DBD selalu terjadi di kisaran El Nino dan El Nino itu ada siklusnya. Jadi memang pengaruh perubahan iklim atau cuaca juga berpengaruh. Di musim penghujan pun kejadian DBD juga dilaporkan mengalamipeningkatan," kata Budi Gunadi Sadikin dalam video di akun YoutubeKomisi IX DPR RI. Siklus El Nino, kata Budi, ada di kisaran 3 tahunsekali dan lima tahun sekali. Maka bila menilik data angka kasus DBD juga sempat naik pada 2016 kemudian turun lagi. Lalu, beberapa tahunkemudian alami kenaikan lagi.

Untuk Kota Kendari sendiri, khususnya wilayah kerja BLUD UPTD Puskesmas Puuwatu, jumlah penderita DBD juga meningkat setiaptahunnya. Menurut data yang didapat dari programmer DBD BLUDUPTD Puskesmas Puuwatu, kejadian DBD dari tahun 2020 hingga tahun2024 meningkat jumlahnya. Pada tahun 2020 terdapat 63 kasus, tahun2021 terdapat 66 kasus, tahun 2022 sempat turun menjadi 51 kasus. Kemudian naik lagi pada tahun 2023 menjadi 80 kasus dan mengalamikelonjakan pada tahun 2024 sehingga menjadi 218 kasus saat memasukipenghujung tahun. Programmer tersebut menuturlkan bahwa pelaporanangka kejadian DBD banyak ditemukan pada musim panca roba, baik ituperalihan dari musim penghujan ke musim panas atau pun dari musimpanas ke musim penghujan. Meskipun demikian, petugas tetap melakukanUpaya untuk mencegah semakin meningkatnya angka kejadian DBD, misalnya dengan melakukan sosialiasi mengenai 3M (menguras tempatpenampungan air, menutup rapat tempat penampungan air, dan memanfaatkan barang bekas) sehingga tidak menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk.

Infeksi dengue dapat menimbulkan gejala klinis yang bervariasi, mulai dari demam dengue, demam berdarah dengue, hingga menimbulkansindrom syok Dengue. Apabila tidak tertangani, dengue dapat memicuterjadinya kejadian luar biasa (KLB) yang sangat meresahkan masyarakat, hingga berakhir dengan kematian. Kondisi tersebut menimbulkan beban yang besar pada masyarakat, sistem kesehatan, dan ekonomi di sebagianbesar negara tropis di dunia (WHO, 2012). Pada awal tahun 2020, WHO kemudian memasukkan dengue sebagai salah satu ancaman kesehatanglobal di antara 10 penyakit lainnya (WHO, 2021). Untuk memperkuat pengawasan global dan memantau tren sementara dan kejadian penyakit, WHO telah membentuk sistem pengawasan demam berdarah global. Sistem ini akan melakukan pelaporan bulanan di seluruh wilayah WHO dan dapat diakses di alamat berikut: https://worldhealthorg.shinyapps.io/dengue_global/, ungkap Ismayanti, Mahasiswi Pasca sarjana jurusan Kesehatan Masyarakat Universitas Mandala Waluya